Tuesday, 6 December 2016

Pemeriksaan Pra Lasik Part 1

Assalamu'alaikum

Tulisan ini akan bercerita mengenai proses dari awalnya saya memulai lasik. Semoga dengan tulisan ini, pembaca blog saya yang juga ingin menjalani operasi LASIK, dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya karena ketika saya mencari informasi secara detail di dunia maya, saya merasa kurang mendapat informasi tentang operasi LASIK ini. So, happy reading!

Juli 2016 (Mencari informasi)
Sebelum saya datang ke rumah sakit ini, saya banyak mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai lasik ini di dunia maya. Saya punya tiga orang teman yang sudah pernah menjalani lasik sebelumnya, maka dari itu saya mencoba bertanya kepada tiga orang teman saya ini. Dua diantaranya adalah adik kakak, jadi rumah sakit yang mereka pilih pun sama, sebut saja rumah sakit A. Satunya lagi menjalani operasi di rumah sakit B. Ternyata bertanya pada mereka via chatting saja tidaklah cukup. Oleh karena itu, PR saya masih panjang, yaitu dengan berselancar di dunia maya dan mengunjungi kedua rumah sakit tersebut.

Setelah Idul Fitri yang lalu, papa mertua saya sedang ke Jakarta dan ingin memeriksakan kondisi retina matanya pasca operasi di tahun 2012 yang lalu. Ikutlah saya dengan diantar suami, sekaligus bertanya-tanya kepada front office rumah sakit tersebut mengenai proses LASIK.

Informasi yang saya dapat hari itu adalah:
1. Penjelasan mengenai apa itu LASIK
2. Syarat bagi pasien
3. Bagaimana prosedur tindakan, dan 
4. Perkiraan biaya

Mungkin kamu masih kurang paham mengenai apa saja syarat LASIK? Syarat LASIK itu diantaranya:
1. Tidak sedang hamil atau menyusui
2. Tidak menggunakan softlens selama dua minggu berturut-turut untuk dilakukan pemeriksaan pra-LASIK

Sebenarnya, di hari itu juga saya disarankan pihak rumah sakit untuk langsung mendaftarkan diri pemeriksaan pra-LASIK ke resepsionis dan memilih dokter yang akan menangani saya ke depannya. Karena saya harus mencari jadwal dimana saya tidak harus menggunakan softlens selama dua minggu sambil mencari informasi mengenai dokter yang akan dipilih, karena kalau tidak salah dokter yang menangani LASIK di rumah sakit itu berjumlah 60 orang. Hmm, jumlah yang sangat banyak dan saya harus dapat informasi mengenai dokter yang akan mengoperasi mata saya.

Karena belum ada keputusan mengenai siapa dokter yang saya pilih, akhirnya salah satu karyawan dari pihak rumah sakit dengan senang hati memberikan no. handphone agar saya bisa mendaftar via Whatsapp. Salah satu pelayanan yang baik sekali dari rumah sakit ini.

Jumat, 26 Agustus 2016 (Mendaftarkan diri via telepon)
Setelah saya mencari informasi dan membaca pengalam lasik serta review mengenai dokter-dokter yang menangani LASIK di internet, ternyata saya tidak banyak mendapat informasi yang saya harapkan. Akhirnya dokter yang saya pilih adalah dokter X dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Melihat jadwal yang saat itu kosong (pastinya sudah dengan persyaratan tidak memakai softlens selama dua minggu).
2. Mencari waktu weekday karena saya bukan pekerja kantoran dan menginginkan tidak terlalu lama mengantri.
3. Memiliki jam terbang yang tinggi
4. Memiliki kepribadian yang asik, tidak kaku, dan friendly. Karena saya khawatir pasca operasi saya akan banyak pertanyaan yang mungkin saat itu diperlukan,, oleh karena itu saya ingin dokter tersebut masih mau melayani pasca operasi.

Atas pertimbangan itulah, akhirnya saya mendaftarkan diri saya lewat telepon dan waktunya adalah hari Kamis, 1 September 2016 dengan dokter X. 

Kamis, 1 September 2016 (Pemerikasaan Pra-LASIK)
Saya dan suami tiba di rumah sakit A kurang lebih pukul 09.00. Dengan dibantu tim dari rumah sakit tersebut di bagian pintu utama, saya diminta untuk mengisi sebagai pasien baru terlebih dahulu. Kemudian menunggu sebentar untuk selanjutnya dipanggil kembali oleh resepsionis kemudian menjelaskan mengenai proses pra-LASIK ini. Pertama saya harus ke lantai 3 untuk pemeriksaaan di Ruang BDR, kemudian naik ke lantai 4 untuk pemeriksaan di Ruang CDC , dan kembali lagi ke lantai 3 untuk dibacakan hasil oleh dokter yang bersangkutan di R3E.

Ruang Basic Diagnostic Room (BDR) di lantai 3
Di dalam ruangan ini saya melakukan 3 macam pemeriksaan:
1. Tonometri (memeriksa tekanan bola mata)
2. Pengecekan ulang minus, dengan hasil:
Mata kiri: minus (-) 8,00 dan silinder 2,00
Mata kanan: minus (-) 7.00 dan silinder 1,00
3. Tensi darah

Hasil pemeriksaan minus mata

Ruang Comprehensive Diagnostic Center (CDC) di lantai 4
Di ruangan ini merupakan tempat pemeriksaan bagi pasien yang akan menjalani tindakan, seperti LASIK, operasi katarak, dan tindakan lainnya. Di ruangan ini kalau tidak salah saya kembali menjalani 3 (tiga) macam pemeriksaan.
1. Pengecekan ketebalan kornea
2. Huhuhu... Lupa nama tindakannya. Maafkan :(
3. Topografi mata

Setelah menunggu sekitar 15 menit, seluruh hasil pengecekan mata hari ini sudah siap, dan pemeriksaan ini dilanjutkan ke lantai 3 untuk pembacaan hasil oleh dokter. Sebagai informasi tambahan dan penting, tidak semua mata minus bisa dilakukan tindakan LASIK. Cara yang paling mudah adalah mengetahui ketebalan kornea si pasien. Batas minumun ketebalan kornea adalah sekitar 500 mikron.

Dengan membawa hasil pemeriksaan barusan, saya mengantri di R3E, dimana ruang sang dokter berada. Kalau menurut antrian saya berada di no.3. Namun entah kenapa saya merasa banyak dilewati beberapa orang yang juga sedang mengantri. Padahal saya datang lebih dulu di antrian ini. Hal ini yang agak aneh dari proses pelayanan rumah sakit ini. Tapi masih bisa sedikit ditolerir waktu menunggunya.



Lihatlah betapa ngantuknya suami saya mengantar saya pagi-pagi ke Rumah Sakit? Hihihi...

Tibalah saatnya nama saya dipanggil oleh suster. Mulai deg-degan. Takut hasilnya saya tidak bisa melanjutkan proses tindakan LASIK ini. Salah satu cita-cita saya. Huhu... Setelah dokter membaca seluruh hasil pemeriksaan saat itu, saya diberikan lampu hijau untuk bisa menjalankan operasi LASIK. Alhamdulillah... Dokter bilang kornea saya sekitar 530 mikron. Jadi saya dapat melanjutkan tindakan LASIK ini. Yeay... I'm so happy! Happy yang sebenarnya ada rasa takut juga. Namanya juga tindakan operasi. Hehe... 

Ketebalan kornea ini merupakan faktor genetik yang tidak dapat dibuat-buat, misalnya minum vitamin agar kornea kita tebal, itu tidak mungkin. Dan mengapa ketebalan kornea harus dicek terlebih dahulu? Karena proses LASIK ini akan mengikis kornea mata kita sehingga kornea yang diharapkan pasca operasi LASIK ini adalah sekitar 300 mikron. Jadi kalau kornea kita kurang dari 500 mikron, kornea kita tidak akan mampu untuk mencapai angka minimal tersebut.

Kagetnya lagi, setelah oke akan melaksanakan operasi LASIK, dokter langsung menentukan tanggal operasi. Percakapannya kurang lebih begini:
Dokter: "Bagaimana kalau Sabtu besok?" 
Saya: "Wow... Lusa? Tidak bisa, dok. Hari Minggu saya sudah ada jadwal photoshoot."
Dokter: "Oke, kalau begitu Senin bagaimana?"
Saya: "Kalau Senin operasi, H-1 nya boleh capek-capek tidak, dok?"
Dokter: "Yang penting mata tidak lelah. Dan yang terpenting itu pasca operasinya kamu harus bedrest sekitar 2-3 hari."
Saya: "Baiklah, dok. Kalau begitu Senin saja ya kita tindakan LASIK-nya."
Dokter: "Oke, sip!"
Terasa proses LASIK impian saya ini berjalan sangat cepat. Excited dan tidak sabar untuk bisa bebas dari kacamata. Semoga proses operasi berjalan lancar dan tidak kurang suatu apapun. Aamiin...

Untuk informasi biaya pra-Lasik ini hampir Rp 3.000.000,- untuk administrasi pasien baru, konsultasi dokter, pemeriksaan awal, pemeriksaan biometri, dan foto fundus.

Oke, sekian sharing saya mengenai proses Pra-Lasik ini. Semoga bermanfaat dan sampai ketemu di postingan saya selanjutnya yang akan menceritakan proses LASIK-nya.

Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya di komen ya... Untuk lebih lengkap proses pemeriksaan ini silahkan klik Youtube Channel saya di sini: FA Vlog | Lasik Part 1


Wassalamu'alaikum

1 comment:

  1. Ever wanted to get free Google+ Circles?
    Did you know that you can get them AUTOMATICALLY & TOTALLY FOR FREE by getting an account on Like 4 Like?

    ReplyDelete